Tips Interview

Jangan Tanya Ini Saat Interview

Biasanya setiap akhir sesi interview, pewawancara akan memberikan ADers kesempatan untuk bertanya. Jangan lewatkan kesempatan ini, ADer tidak akan terlihat bodoh jika bertanya, tentunya lontarkan pertanyaan yang berkualitas dan pintar. Pertanyaan tersebut dapat menjadi nilai tambah untuk ADers lho.

Tidak semua pertanyaan dapat ADers lontarkan kepada pewawancara. Berikut ini beberapa pertanyaan yang sebaiknya tidak perlu ADers tanyakan saat interview, dilansir dari She dan Female:

“Berapa lama saya bisa naik gaji?”
Ketika sedang dalam proses wawancara ini belum berarti bahwa ADers sudah diterima bekerja. Mempertanyakan tentang kepastian naik gaji pastinya bisa membuat si pewawancara berpikir bahwa ADers terlalu berorientasi pada uang.

Waktu yang paling tepat untuk mempertanyakan hal ini adalah setelah ADers benar-benar diterima bekerja. Di sinilah waktunya untuk menunjukkan potensi diri di perusahaan untuk meningkatkan karier, dan sejalan dengan peningkatan gaji.

“Kapan saya akan libur?”
Sebagai seorang karyawan baru yang kemungkinan akan bekerja di perusahaan tersebut, biasanya ADers belum akan mendapatkan jatah libur di luar hari libur nasional. Tunggu sampai ADers pasti diterima bekerja, baru ADers bisa bertanya tentang hari libur dan waktu istirahat.

“Bagaimana hasil wawancara saya?”
Pertanyaan ini membuat pewawancara bingung. Pewawancara yang baik akan memerlukan waktu untuk memproses hasil wawancara ADers dan membandingkannya dengan kandidat yang lain. Jangan mengakhiri wawancara dengan catatan yang janggal.

“Mengapa saya harus menerima pekerjaan ini?”
Jika ADers tidak bisa menentukan sendiri apakah pekerjaan tersebut adalah pilihan ADers, pihak perusahaan tidak akan membantu ADers untuk menemukan jawaban yang ADers cari.

“Apa fasilitas yang saya dapatkan?”
Dalam wawancara pertama sebaiknya hindari dulu menanyakan perihal fasilitas yang ADers dapatkan. Gunakan pertanyaan lain yang bisa membuat si pewawancara membahas fasilitas yang akan ADers dapatkan selama bekerja di sana, misalnya dengan bertanya jenis pekerjaan yang harus ADers lakukan, ataupun metode melakukan pekerjaan yang dilakukan.

“Berapa lama waktu yang Anda berikan untuk istirahat makan siang?”
Semua hal yang mengimplikasikan bahwa ADers fokus untuk menjauhi pekerjaan daripada mengutamakan pekerjaan akan memberi cerminan buruk kepada diri ADers.

“Apa tunjangan yang saya dapatkan?”
Meminta berbagai jenis tunjangan besar selama wawancara bisa membuat pewawancara akan menganggap ADers terlalu banyak menuntut. Kemungkinan besar, tuntutan ADers akan lebih besar lagi ketika sudah bekerja di kantor tersebut.

“Apakah saya harus lembur?”
Faktanya adalah ketika ADers menanyakan masalah ini, artinya ADers tidak tertarik dan tidak ingin bekerja lembur meskipun saat dibutuhkan. Bila ADers bekerja di media atau bidang kreatif lain, boleh dibilang hampir tiap hari harus bekerja overtime.

Menanyakan masalah lembur, menunjukkan bahwa ADers tak siap bekerja di perusahaan seperti ini. Bila memang harus menanyakannya, gunakan bahasa yang lebih halus. Misalnya, tanyakan tentang tipe pekerjaan, jam kerja, dan hari kerja Anda.

So, pernahkah ADers melontarkan pertanyaan terlarang di atas saat wawancara kerja?




There are no comments

Add yours